Gitanjali – Kidung Persembahan

Gitanjali – Kidung Persembahan
Enkau membuatku abadi, begitulah kesenanganmu. Bumbung yg rapuh ini engkau kosongi lagi dan lagi, lalu engkau isi dengan kehidupan baru.

Seruling bambu kecil ini engkau gemakan ke segenap penjuru bukit dan lembah, meniupkan melodi-melodi yg selalu baru.

Hatiku yg kecil mabuk kebahagiaan merasakan sentuhan abadi kedua tanganmu dan mulutku mengucapkan kata-kata ketakterhinggaan.

Anugerahmu yg tak terbatas tercurah padaku hanya dapat kuterima dengan kedua tanganku yg kecil ini. Waktu ke waktu telah berlalu, engkau masih tetap mencurahkan, dan disini selalu masih ada bumbung yg dapat diisi.

Kehidupan dr kehidupanku, aku akan selalu menjaga kemurnian tubuhku, krn kutahu sentuhanmu yg hidup merayapi sekujur tubuhku.

Aku akan selalu menjauh segala ketidakbenaran dari pikiranku, krn kutahu engkaulah kebenaran itu yg menyalakan terang budi dlm jiwaku.

Dan aku berjuang keras meyingkapmu dalam setiap tindakanku, karena kutahu kuasamu memberiku kekuatan untuk bertindak.

~Rabindranath Tagore~

Gitanjali, Syair 13 | Rabindranath Tagore

Kidung yang telah kugubah belum pernah disenandungkan

hingga hari ini.

Aku telah menghabiskan hari-hariku memasang dan melepaskan

dawai-dawai alat musikku.

Waktu belum juga datang, syair belum lagi terakit;

hanya ada hasrat yang pilu di hatiku.

Kelopak-kelopak belum lagi merekah;

hanya angin terdengar mendesah.

Aku belum melihat wajahnya, juga belum mendengar suaranya;

hanya langkah-langkah gagah terdengar melintas di jalan depan rumahku.

Hari yang panjang kulewatkan untuk membentangkan tempat duduknya di atas lantai; tetapi lentera belum dinyalakan

dan aku tak dapat memintanya masuk ke rumahku.

Aku hidup dalam harapan bertemu dengannya;

namun pertemuan belum terjadi.

Kaya Rasa Kaya Makna | Gede Prama

“Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam…”

Kemiskinan badan yang berjumpa dengan kemiskinan pikiran, demikian seorang murid mendengar bisikan gurunya di akhir meditasi. Rumah sakit yang seyogyanya menjadi tempat penyembuhan, tidak saja mahal malah mengirim pasiennya ke penjara. Rumah tangga yang dulunya menjadi tempat teduh pertumbuhan manusia, sekarang menjadi ladang perkelahian yang kering kerontang. Sekolah yang dulunya membahagiakan, sekarang ketika ujian dijaga polisi. Bahkan terjadi penangkapan-penangkapan menakutkan. Contoh seperti ini masih bisa ditambah dengan yang lain. Dari sini timbul pertanyaan bagi generasi baru, ke mana peradaban akan berteduh?

Sekolah yang indah

Di banyak tempat, mulai ditemukan kasus-kasus home schooling. Anak-anak takut pergi ke sekolah karena berbagai alasan. Dari dipukuli teman, ngeri guru galak, pekerjaan rumah yang menumpuk, ujian (ulangan) yang tidak ada habisnya.

Seorang sahabat menteri kabinet yang anaknya terkena home schooling, memutar kepala habis-habisan bagaimana agar wajah sekolah menjadi indah di mata anaknya. Ini memberi inspirasi, mungkin ini saatnya merenungkan sisi-sisi sekolah yang indah. Dan diantara sekian pilihan yang tersedia, latihan memberi adalah salah satu alternatif.

Di sebuah pelatihan supir untuk perusahaan taksi terkemuka pernah dilakukan latihan memberi yang menarik. Di hari pertama peserta diminta membawa nasi bungkus karena tidak diberikan makan siang. Maka berlomba peserta membawa makanan yang seenak-enaknya. Ternyata di waktu makan siang supir diminta meletakkan nasi bungkusnya di kelas sebelah untuk dimakan peserta kelas sebelah. Sedangkan yang bersangkutan memakan makanan yang dibawa sahabat kelas sebelah.

Di hari kedua, lagi-lagi diumumkan untuk membawa nasi bungkus. Setelah tahu kalau nasi yang dibawa untuk orang lain, banyak peserta yang hanya membawa nasi seadanya. Tidak sedikit hanya memasukkan nasi putih tanpa berisi satu lauk pun. Dan ternyata di hari kedua aturannya berubah, peserta harus memakan nasi yang dibawa dari rumah. Dan tahu sendiri akibatnya.

Apa yang mau diilustrasikan di sini, menyangkut perut sendiri betapa borosnya manusia kekinian memberi, bahkan banyak yang sampai stroke hanya karena memberi berlebihan pada perut. Namun berkaitan dengan perut orang lain betapa sedikit yang diberikan. Dan tiba-tiba para supir taksi tersentak, betapa egoisnya hidup, dan keegoisan inilah yang membuat hidup jadi penuh penderitaan.

Para guru yang kaya di dalam, tidak pernah bosan membimbing muridnya: “Memberi, memberi, memberilah terus. Dan lihat bagaimana hidupmu jadi sejuk dan lembut setelah rajin memberi”.

Dan ini bisa dilakukan melalui hal-hal yang kerap disebut “sepele”: menyapu lantai, membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah, menemani anak-anak main bola, merapikan piring ketika pembantu tidak ada, membantu pekerjaan teman di kantor yang bebannya lagi tinggi, memberi jalan pada orang-orang yang sedang terburu-buru.

Di sekolah para guru boleh meniru pola pelatihan supir taksi tadi, bisa juga mengajak anak-anak didik pergi ke panti asuhan, rumah orang-orang yang tubuhnya tidak lengkap, menjenguk pasien-pasien tua di rumah jompo, bermain bola bersama anak kampung. Intinya satu, menyadarkan mereka bahwa memberikan itu membahagiakan.

Dalam bahasa orang-orang yang rajin memberi, ketika memberi sesungguhnya manusia tidak saja sedang mengurangi beban orang lain, melainkan juga sedang membangunkan sifat-sifat bajik yang ada di dalam diri. Dan tatkala sifat-sifat bajik muncul, kebahagiaan muncul secara alamiah.

Tiga tangga pemberian

Ada yang membagi pemberian ke dalam tiga tangga keutamaan. Pertama, para mahluk sama dengan kita: “mau bahagia, tidak mau menderita”. 0leh karena itu, jangan pernah menyakiti. Kedua, para mahluk lebih penting dari kita. Nasi, lauk, air, udara, pekerjaan dan semua yang memungkinkan hidup berputar, dihasilkan pihak lain. Binatang bahkan terbunuh agar manusia bisa makan daging. Untuk itu, banyaklah menyayangi. Dari menanam pohon, membeli burung kemudian melepaskannya, mengurangi memakan daging, sampai memberikan bea siswa anak-anak miskin.

Ketiga, karena para mahluk lebih penting, belajarlah memberikan mereka kebahagiaan, mengambil sebagian penderitaannya. Perhatikan doa Santo Fransiscus dari Asisi. Cintaku, izinkan saya menjadi budak perdamaian. Di mana ada kemarahan, biar saya hadir dengan kasih. Di mana ada kebencian, biar batin ini muncul dengan memaafkan. Mistikus Sufi Kabir menulis: I glimpsed it for fifteen seconds and it made me a servant of life. Nur itu terlihat hanya beberapa detik, namun ia merubah seorang penyembah menjadi seorang pelayan.

HH Dalai Lama kerap menyentuh publik ketika menyampaikan pesan lembut ini: “Jika Anda mau bahagia, sayangi orang lain. Bila Anda mau orang lain bahagia, sayangi orang lain”.

Ini serupa dengan lirik lagu anak-anak tentang menanam pohon yang dikutip di awal, cangkul, cangkul, cangkul yang dalam. Karena hanya dengan mencangkul yang dalam, akar-akar pohon bisa menghidupi batang, daun, bunga dan buah. Kehidupan manusia juga sama. Hanya pemberian yang memungkinkan seseorang “mencangkul hidupnya” secara mendalam. Dan sebagai hasilnya, ada sekuntum bunga indah kehidupan yang mekar: “kaya rasa, kaya makna”. Di tahap ini, ada yang berbisik: Death can be beautiful too!. Bahkan kematian pun berwajah indah. Pertama, bagi yang terbiasa memberi (melepaskan), tidak lagi tersisa kemelekatan yang membuat kematian berwajah menakutkan. Kematian menakutkan karena belum terbiasa melepaskan. Kedua, melalui kematian manusia sedang melaksanakan kesempurnaan pemberian. Jangankan uang, bahkan tubuh pun harus diikhlaskan.

Unsur tanah dari tubuh menyatu dengan tanah, kemudian ikut menghidupi semua mahluk di bumi karena menghasilkan padi, sayur, buah. Unsur air bergabung dengan air agar mahluk tidak kehausan. Unsur api menyatu dengan api agar mahluk bisa memasak. Unsur udara bersatu dengan udara sehingga mahluk bisa melanjutkan kehidupan. Unsur jiwa (ada yang menyebutnya kesadaran) menyatu dengan semua jiwa (kesadaran) agar mahluk ikut ketularan teduh. Inilah kematian yang menawan. Melalui kematian manusia bukannya kehilangan, malah memberikan.

Buahnya Parama Shanti (Gede Prama)

Ada sebuah keberuntungan yang dialami Tibet yang tidak dialami Bali. Guru-guru Tibet bila didengarkan ajarannya secara langsung, tentu saja indah menawan ajarannya. Terutama bagi murid yang terlahir dengan aroma Tantra. Tapi begitu ajaran lisan ini dirubah menjadi pesan-pesan tulisan oleh sejumlah sahabat editor dari Barat, ajaran-ajaran Tantra dari Tibet menjadi jauh lebih indah lagi.

Hanya sebagai contoh, dua buku Yongey Mingyur Rinpoche (Joy of living dan Joyful wisdom) adalah kumpulan ceramah beliau di berbagai belahan dunia. Namun begitu ditulis oleh Eric Swanson, ia menjadi serangkaian karya yang tidak saja beraroma Tantra, namun juga dibahasakan dengan bahasa-bahasa pengetahuan yang universal. Kendati Mingyur Rinpoche adalah salah satu generasi baru guru Tibet, ia tidak saja fasih mengutip  maha  guru Tibet seperti Lama Padmasambhawa dan Gampopa, tetapi juga akrab dengan karya pakar neurosains seperti Fransisco Varela serta fisikawan Fritjof Capra. Andaikan orang-orang seperti Eric Swanson mau datang ke Bali, mendengarkan ajaran tetua Bali, bisa jadi lahir karya spiritual yang tidak kalah indahnya.

Dalam kerangka berfikir yang biasa digunakan para sahabat dari Barat, ajaran tetua Bali bisa disederhanakan seperti ini. Titik berangkatnya adalah rwa bhineda, jalan setapak yang dilalui bernama bhakti yoga, buah pencahariannya bernama Parama Shanti.

Awalnya

Agak sulit membayangkan ada perjalanan spiritual yang mendalam bila pikiran masih dicengkram dan diguncangkan dualitas. Tuhan dimusuhkan dengan setan, Buddha berkelahi dengan mara, yang suci menjadi lawan dari yang kotor. Disebut sulit, karena semakin kencang dualitas mengguncang, semakin jauh seseorang dari rumah spiritualnya. Meminjam seorang sahabat spiritual: “mind tormented by partiality will never experience ultimate peace”. Batin mana pun yang diguncang oleh dualitas, akan teramat sulit menemukan kedamaian maha utama.

Bagi yang sudah menggali dalam ke dalam tahu, dualitas diperlukan hanya di awal perjalanan. Ia seperti kendaraan. Tatkala melewati jalan tol, memerlukan mobil. Saat menyeberangi danau diperlukan perahu. Ketika mendaki tebing memerlukan tali. Akan tetapi sesampai di puncak gunung, seluruh alat dan kendaraan mesti ditinggalkan di belakang. Hanya orang-orang kurang waras saja yang menggendong mobil dan perahu ke puncak gunung.

Dalam perspektif ini, sesungguhnya tetua Bali cerdas sekali (secara spiritual) ketika menemukan rwa bhineda sebagai awal perjalanan. Dalam bahasa orang tua ke puteranya: “rwa bhinedane tampi!”. Dualitas (baik-buruk, benar-salah, suci-kotor, dll) jangan lupa dipeluk, diterima, disapa dengan senyuman.

Itu sebabnya, dalam meditasi dianjurkan untuk menyapa serta tersenyum pada apa saja yang ditemukan dalam keseharian. Bahagia senyum, sedih juga senyum. Kemudian mengenali bentuk-bentuk pikiran, perasaan secara mendalam. Lebih mudah menemukan kesembuhan dan kedamaian bila dualitas disapa sebagaimana kita menyapa seseorang di pesta. Ujung-ujungnya, dualitas berhenti menjadi orang asing yang menakutkan, mulai berfungsi sebagai sahabat yang siap menolong.

 

Jalan Setapak

Dengan bekal sahabat dekat (tidak lagi menjadi musuh yang berdebat dan berkelahi) bernama rwa bhineda, maka langkah-langkah bakti dalam keseharian menjadi ringan menawan. Ringan karena bakti tidak disertai beban target bahwa setelah menjalankan bakti pasti jadi Bupati, jika tidak melaksanakan bakti pasti sakit hati. Bakti adalah bakti, ia sudah indah hanya dengan dilaksanakan. Disebut indah, karena bakti yang mengendarai rwa bhineda bisa membuat semua arah indah.

 

Tetua Bali memang mengenal luan-teben (hulu-hilir). Tetapi tanpa hilir, hulu tidak ada. Tanpa orang jahat, orang baik tidak kelihatan. Tanpa orang kasar, orang sabar jadi hambar. Dengan sudut pandang seperti ini, maka bakti jadi selalu indah, indah dan  indah.  Sebagai  hasilnya,   tidak   perlu  marah  berlebihan kepada orang yang mencuri pratima di Pura, tidak perlu benci berlebihan kepada Pemangku genit yang memercikkan tirtha sambil mengintip susu istri orang. Dan pada saat yang sama, tidak perlu memaksa kalau bakti harus hening, harus tertib, harus diam.

Serupa alam, kalau saatnya petir menggelegar, maka ia akan menggelegar. Bila waktunya langit biru memancarkan cahaya matahari sempurna, maka terang benderanglah alam. Makanya, meditasi disebutkan sebagai undangan untuk “istirahat” pada apa saja yang terjadi di saat ini. Pengertian istirahat amatlah sederhana, tidak menggenggam hal-hal positif, tidak menendang hal-hal negatif. Inilah bhakti yoga yang sesungguhnya. Tatkala batin bisa berbakti kepada apa saja yang terjadi di saat ini.

Buahnya

Dengan bekal awal berupa rwa bhinedha, serta memperlakukan apa saja sebagai bakti, maka mudah bagi krama Bali untuk menyentuh (tidak sekadar mengucapkan) Parama Shanti. Kata shanti (damai) yang diucapkan jutaan kali tidak lagi menjadi seperti sebuah lirik lagu blowing in the wind (terbang percuma bersama angin), tetapi bergetar menyentuh relung-relung batin ini.

 

Tatkala digetarkan oleh vibrasi damai kata shanti, awalnya memang dipeluk keheningan (nyepi lan ngewindu), lama-lama ia melahirkan kerinduan untuk menyayangi semua yang belum pernah mengalaminya (urip lan nguripi). Ia semacam bisikan orang tua ke putera kesayangannya: “bawa orang-orang pulang!”.

Namun sebagaimana cahaya matahari yang hanya bisa menyinari mereka yang membuka jendela dan pintunya, cahaya-cahaya Parama Shanti hanya bisa memasuki mereka yang sujud dan bakti kepada guru. Di Tantra disebut Guru Yoga Guru Puja. Ada memang orang yang ragu berlebihan kemudian mengkaji calon guru sebaik-baiknya. Maklum, ini zaman yang penuh dengan kepalsuan. Namun, bagi mereka yang berkah spiritualnya sudah berlimpah, berkali-kali guru sudah memperlihatkan diri melalui mimpi, samadhi, atau malah sudah menampakkan diri secara nyata (skala) dengan mengenakan tubuh manusia yang siap untuk diajak berdialog.

 

Di antara mereka yang disentuh guru, ada yang bertanya polos: apa ciri murid yang sudah sampai di puncak gunung Parama Shanti, atau sudah memakan buah Parama Shanti?. Kesembuhan adalah langkah permulaan. Kedamaian adalah tangga berikutnya. Keheningan yang tidak terjelaskan, itulah rumah sesungguhnya.

Ahli neorosains Fransisco Varela menemukan istilah the biology of compassion. Kasih sayang ternyata menyembuhkan. Ini mirip dengan hasil penelitian yang menyimpulkan, orang yang memiliki binatang peliharaan yang disayangi di rumah, memiliki resiko terkena serangan jantung lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang tidak memilikinya. Dalam bahasa Daniel Goleman dari Harvard, kasih sayang itu mendamaikan. Kedamaian ini kemudian membuat kekebalan tubuh membaik, yang pada akhirnya membukakan pintu kesembuhan. Dokter senior dari Universitas Yale bernama Bernie Siegel memberi judul karyanya Peace, Love and Healing. Dalam karya ini terang sekali terlihat, kedamaian dan cinta itu menyembuhkan.

Dengan modal kesembuhan ini, mudah sekali bagi pintu kedamaian maha utama (Parama Shanti) terbuka. Kedamaian di jalan ini, bukanlah musuhnya kekacauan. Kedamaian adalah kedamaian. Ia bukan musuhnya siapa-siapa. Ia hanya butuh istirahat pada apa saja yang terjadi di saat ini. Indahnya, setelah istirahat bukannya cuek, tidak peduli, tetapi melahirkan kerinduan untuk selalu melaksanakan tugas-tugas pelayanan.

Sumber: Gede Prama

Janganlah Menjadi Gelas dalam Hidup Ini

Seorang guru mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

Kenapa kau selalu murung, nak?

Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini?

Kemana perginya wajah bersyukurmu?? sang Guru bertanya.

Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh? Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.

Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu, kata Sang Guru? Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

Bagaimana rasanya?? tanya Sang Guru.

Asin, dan perutku jadi mual, jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

Sekarang kau ikut aku.Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau?

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

Sekarang, coba kau minum air danau itu,kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, Bagaimana rasanya??

Segar, segar sekali,kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.

Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi??

Tidak sama sekali,kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

Nak, kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.?

Si murid terdiam, mendengarkan.

Tapi Nak, rasa asin dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu jadi sebesar danau….

Dan selalulah bisa mempunyai hati yg selalu bisa mengucap syukur untuk segala hal yg terjadi dalam hidup kita.

dari: kundaliniyogaindonesia.com

Bakteri Penghasil Sumber Energi

Seperti yang telah kita ketahui bersama, energi fosil yang merupakan sumber energi utama pada saat ini, berasal dari jasad renik makhluk hidup yang terkubur berjuta-juta tahun lalu. Jasad-jasad renik tersebut diuraikan oleh bakteri-bakteri ataupun mikroorganisme di dalam tanah sehingga mengalami pengubahan bentuk menjadi minyak bumi, gas alam, maupun batu bara. Hal itu menggambarkan bahwa bakteri-bakteri berperan penting dan besar dalam pembentukan sumber energi fosil yang kita pergunakan selama ini.

Bakteri metanogen merupakan salah satu jenis bakteri yang dapat menghasilkan sumber energi. Sumber energi yang dapat dihasilkan oleh bakteri ini adalah biogas. Biogas merupakan gas yang dilepaskan jika bahan-bahan organik difermentasi atau mengalami proses metanisasi. Proses fermentasi (penguraian material organik) tersebut terjadi secara anaerob (tanpa oksigen). Biogas terdiri atas beberapa macam gas, antara lain metana (55-75%), karbon dioksida (25-45%), nitrogen (0-0.3%), hydrogen (1-5%), hidrogen sulfida (0-3%), dan oksigen (0.1-0.5%). Persentase terbesar dalam biogas ini, metan, membuat gas ini mudah terbakar dan dapat disamakan kualitasnya dengan gas alam setelah dilakukan pemurnian terhadap gas metan.

Sumber pembuatan gas metan ini berasal dari bahan-bahan organik yang tidak memerlukan waktu yang terlalu lama dalam penguraiannya, seperti kotoran hewan, dedaunan, jerami, sisa makanan, dan sortiran sayur. Dalam menghasilkan gas metan ini, bakteri metanogen tidak bekerja sendiri. Terdapat beberapa tahap yang harus dilalui dan memerlukan kerja sama dengan kelompok bakteri yang lain. Berikut ini merupakan tahapan dalam proses pembentukan biogas :

1.      Hidrolisis

Hidrolisis merupakan penguraian senyawa kompleks atau senyawa rantai panjang menjadi senyawa yang sederhana. Pada tahap ini, bahan-bahan organik seperti karbohidrat, lipid, dan protein didegradasi menjadi senyawa dengan rantai pendek, seperti peptida, asam amino, dan gula sederhana. Kelompok bakteri hidrolisa, seperti Steptococci, Bacteriodes, dan beberapa jenis Enterobactericeae yang melakukan proses ini.

2.      Asidogenesis

Asidogenesis adalah pembentukan asam dari senyawa sederhana. Bakteri asidogen, Desulfovibrio, pada tahap ini memproses senyawa terlarut pada hidrolisis menjadi asam-asam lemak rantai pendek yang umumnya asam asetat dan asam format.

3.      Metanogenesis

Metanogenesis ialah proses pembentukan gas metan dengan bantuan bakteri pembentuk metan seperti Mathanobacterium, Mathanobacillus, Methanosacaria, dan Methanococcus. Tahap ini mengubah asam-asam lemak rantai pendek menjadi H2, CO2, dan asetat. Asetat akan mengalami dekarboksilasi dan reduksi CO2, kemudian bersama-sama dengan H2 dan CO2 menghasilkan produk akhir, yaitu metan (CH4) dan karbondioksida (CO2).

Penghasilan biogas dapat mencapai kondisi optimum jika bakteri-bakteri yang terlibat dalam proses tersebut berada dalam lingkungan yang nyaman. Berikut ini merupakan beberapa hal yang perlu diperhatikan agar bakteri-bakteri penghasil biogas dapat menghasilkan gas secara optimum, yaitu:

1.      Lingkungan abiotis

Bakteri yang dapat memproduksi gas metan tidak memerlukan oksigen dalam pertumbuhannya (anaerobik).  Oleh karena itu, biodigester harus tetap dijaga dalam keadaan abiotis (tanpa kontak langsung dengan Oksigen (O2)).

2.      Temperatur

Secara umum terdapat 3 rentang temperatur yang disenangi oleh bakteri, yaitu:

a.       Psikrofilik (suhu 0 – 25°C), optimum pada suhu 20-25°C

b.      Mesofilik (suhu 20 – 40°C), optimum pada suhu 30-37°C

c.       Termofilik (suhu 45 – 70°C), optimum pada suhu 50-55°C

Temperatur merupakan salah satu hal yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri. Menjaga temperatur tetap pada kondisi optimum yang mendukung pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri, akan meningkatkan produksi biogas.

3.      Derajat keasaman (pH)

Bakteri asidogen dan metanogen memerlukan lingkungan dengan derajat keasaman optimum yang sedikit berbeda untuk berkembangbiak. pH yang rendah dapat menghambat pertumbuhan bakteri asidogenesis, sedangkan pH di bawah 6,4 dapat meracuni bakteri metanogenesis. Rentang pH yang sesuai bagi perkembangbiakan bakteri metanogenesis 6,6-7 sedangkan rentang pH bagi bakteri pada umumnya adalah 6,4-7,2. Derajat keasaman harus selalu dijaga dalam wilayah perkembangbiakan optimum bagi bakteri agar produksi biogas stabil.

4.      Rasio C/N bahan isian

Syarat ideal untuk proses digesti adalah C/N = 25 – 30. Nilai rasio C/N yang terlalu tinggi menandakan konsumsi yang cepat oleh bakteri metanogenisis, hal itu dapat menurunkan produksi biogas. Sedangkan rasio C/N yang terlalu rendah akan menyebabkan akumulasi ammonia sehingga pH dapat terus naik pada keadaan basa hingga 8,5. Kondisi tersebut dapat meracuni bakteri metanogen. Kadar C/N yang sesuai dapat dicapai dengan mencampurkan beberapa macam bahan organik, seperti kotoran dengan sampah organik.

Biogas yang dihasilkan oleh sekelompok bakteri yang telah diuraikan di atas, dapat dijadikan sebagai sumber energi alternatif untuk menggantikan sumber energi fosil yang saat ini semakin menipis jumlahnya. Meskipun sama-sama dihasilkan oleh mikroorganisme, namun pembentukan biogas tidak memerlukan waktu yang sangat lama seperti pembentukan energi fosil.

(http://www.upsaps.com)

IBM Kembangkan Kendali PC Berbasis Pikiran

VIVAnews – Apple, Google dan Microsoft sudah mengeluarkan perangkat yang dikendalikan dengan basis suara dan gerakan tubuh di depan sebuah kamera. Tapi IBM memiliki rencana yang jauh lebih canggih, yaitu pikiran akan dapat mengendalikan komputer. Prediksi IBM ini akan dipasarkan pada 5 tahun mendatang.

“Membaca pikiran telah memenuhi pikiran para penggila fiksi ilmiah dalam beberapa dekade. Tapi mereka berharap ini akan segera menjadi kenyataan,” ujar seorang juru bicara IBM, seperti dikutip dari Daily Mail.

IBM memang sedang mengembangkan teknologi sehingga smartphone dan PC dapat “Anda hanya perlu memikirkan akan menelpon seseorang, lalu itu pun terjadi”.

Prediksi tersebut merupakan bagian dari laporan tahunan “Five in Five”. Dalam laporan ini, IBM juga memprediksi bahwa di tahun 2016, password tidak berlaku lagi dan akan diganti teknologi lain yang lebih canggih. Daripada sulit mengingat angka maupun tulisan yang ada, maka password akan diganti oleh bacaan biometrik. Pembacaan ini akan bekerja untuk membaca keunikan Anda secara biometrik.

Sebelumnya, “membaca pikiran” sudah digunakan dalam game seperti Mindflex buatan Mattel. Di game itu, dengan mengenakan alat yang dikenakan di kepala, alat itu membaca gelombang otak, dan Anda pun harus berkonsentrasi untuk menaikkan dan menurunkan bola. Kendali ini bekerja akibat adanya sejenis jet udara yang merespon gelombang otak Anda.

Mattel pun akan memperkenalkan versi barunya, Mindflex 2, pada Consumer Electronics Show di Januari mendatang.

Hal ini bukan berarti adanya teknologi yang lebih canggih ini menyebabkan tidak berlakunya mouse dan mouse pointer di tahun 2016. Meskipun pembuat PC kini juga mengembangkan teknologi yang sudah ada seperti webcam, yang memungkinkan kita untuk mengendalikan PC melalui mata. (eh)

Tumbukan Dua Galaksi

SAN FRANCISCO, KOMPAS.com — Teleskop antariksa Hubble menangkap citra sepasang galaksi yang saling bertumbukan, dihiasi dengan bintang biru muda nan panas. Sekilas, dua galaksi tersebut tampak bagai bunga mawar yang merekah di angkasa.

Pasangan galaksi yang saling berinteraksi itu bernama Arp 273, berada di konstelasi Andromeda, sekitar 300 juta tahun cahaya dari Bumi.

Dua galaksi yang bertumbukan adalah UGC 1810 yang berukuran lebih besar serta UGC 1813. Galaksi yang lebih kecil dikatakan “menyelam” ke bagian galaksi yang lebih besar. UGC 1810 yang lebih besar pun terdistorsi bentuknya menjadi serupa mawar.

Bagian spiral pada galaksi yang lebih besar merupakan tanda interaksi UGC 1810 dan 1813. Di bagian luar, terdapat struktur serupa cincin yang dipercaya merupakan tempat di mana dua galaksi saling bersinggungan. Bagaimana dua galaksi bertumbukan belum diketahui.

Di bagian tepi galaksi yang lebih besar tampak banyak spot berwarna biru, yang menunjukkan tempat di mana bintang muda dan panas banyak didapati.

Mawar hasil tumbukan dua galaksi ini tentu tak sama dengan bunga mawar yang dikenal manusia. “Mahkota” mawar angkasa ini agak miring dan asimetris. Mawar angkasa itu ditangkap dengan kamera WCF3, instrumen di teleskop Hubble.

Bola Misterius dari Luar Angkasa

WINDHOEK, KOMPAS.com — Belum ada seorang pun yang tahu apa benda bulat dari logam yang jatuh di sebuah gurun di utara Namibia itu. Beratnya sekitar 6 kilogram dengan diameter 35 sentimeter.

Saat menghantam permukaan tanah, benda tersebut membentuk kawah sedalam 30 sentimeter dan selebar 4 meter. Bola misterius itu sendiri ditemukan sekitar 18 meter dari kawah yang terbentuk.

Penduduk lokal mengaku mendengar beberapa kali bunyi ledakan sebelum ditemukan benda tersebut oleh salah seorang petani. Temuan benda itu pun langsung mendapat respons saat tersebar di internet. Sebagian berpendapat itu adalah bukti adanya kehidupan lain di luar angkasa.

Namun, Direktur forensik kepolisian setempat Paul Ludik tak mau berspekulasi sehingga langsung mengontak pihak berwenang. NASA dan badan antariksa Eropa (ESA) sudah siap meneliti apa sebenarnya benda tersebut. Salah satu dugaan kuat benda tersebut adalah tangki hidrazine yang digunakan untuk menyimpan senyawa yang mudah terbakar di satelit.

Benda tersebut sebenarnya ditemukan sejak sebulan lalu, tetapi baru dipublikasikan baru-baru ini. Suara ledakan yang terdengar saat jatuh mungkin sonic boom saat kecepatannya menembus Bumi mencapai ambang supersonik.

Benda-benda langit yang jatuh ke Bumi memang beberapa kali tidak habis terbakar karena menggunakna material yang sangat kuat. Saat satelit UARS (Upper Atmosphere Research Satellite) milik NASA dan satelit Rontgen milik Jerman jatuh beberapa waktu lalu, diperkirakan ada sisa material yang jatuh sampai ke Bumi.

Namun, material yang ditemukan di Namibia tetap masih menjadi pertanyaan. Yang pasti material yang digunakan tahan panas sangat tinggi sehingga tahan menembus atmosfer.

Intel Janjikan “Smartphone” Atom di 2012

KOMPAS.com – Intel kembali menyatakan keyakinannya bahwa akan hadir smartphone berbasis prosesor Intel Atom. Di 2012, ponsel dengan Atom ini akan rilis. Namun Intel belum memastikan kapan persisnya.

Berbicara dalam Intel Cloud Summit, R. Ravichandran, Direktur Pemasaran Intel untuk India dan Asia Selatan mengatakan bahwa saat ini TV, Ultrabook dan tablet telah menggunakan prosesor Intel. “Tahun depan, Anda bisa melihat smartphone perdana dengan Intel Atom,” ujarnya.

Tablet yang menggunakan prosesor Atom sudah dijual oleh 35 perusahaan. Selama ini, perangkat itu memakai sistem operasi Windows 7 atau Meego.

Dengan hadirnya Android 4.0 alias Ice Cream Sandwich, diharapkan tablet dengan prosesor Intel juga akan memakai sistem operasi Android. Android 4.0 untuk platform x86 (prosesor Intel dan AMD) tersedia lewat android-x86.org.

Atom pertama yang dirancang untuk penggunaan pada smartphone dan tablet memiliki nama kode Moorestown. Resminya, chip yang diperkenalkan pertengahan 2010 itu bernama Atom Z600.

Berikutnya, Intel akan menghadirkan Atom dengan nama kode Medfield. Saat ini Medfield diklaim sudah bisa digunakan untuk sistem operasi Android 4.0.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.