Gitanjali – Kidung Persembahan

Gitanjali – Kidung Persembahan
Enkau membuatku abadi, begitulah kesenanganmu. Bumbung yg rapuh ini engkau kosongi lagi dan lagi, lalu engkau isi dengan kehidupan baru.

Seruling bambu kecil ini engkau gemakan ke segenap penjuru bukit dan lembah, meniupkan melodi-melodi yg selalu baru.

Hatiku yg kecil mabuk kebahagiaan merasakan sentuhan abadi kedua tanganmu dan mulutku mengucapkan kata-kata ketakterhinggaan.

Anugerahmu yg tak terbatas tercurah padaku hanya dapat kuterima dengan kedua tanganku yg kecil ini. Waktu ke waktu telah berlalu, engkau masih tetap mencurahkan, dan disini selalu masih ada bumbung yg dapat diisi.

Kehidupan dr kehidupanku, aku akan selalu menjaga kemurnian tubuhku, krn kutahu sentuhanmu yg hidup merayapi sekujur tubuhku.

Aku akan selalu menjauh segala ketidakbenaran dari pikiranku, krn kutahu engkaulah kebenaran itu yg menyalakan terang budi dlm jiwaku.

Dan aku berjuang keras meyingkapmu dalam setiap tindakanku, karena kutahu kuasamu memberiku kekuatan untuk bertindak.

~Rabindranath Tagore~

Gitanjali, Syair 13 | Rabindranath Tagore

Kidung yang telah kugubah belum pernah disenandungkan

hingga hari ini.

Aku telah menghabiskan hari-hariku memasang dan melepaskan

dawai-dawai alat musikku.

Waktu belum juga datang, syair belum lagi terakit;

hanya ada hasrat yang pilu di hatiku.

Kelopak-kelopak belum lagi merekah;

hanya angin terdengar mendesah.

Aku belum melihat wajahnya, juga belum mendengar suaranya;

hanya langkah-langkah gagah terdengar melintas di jalan depan rumahku.

Hari yang panjang kulewatkan untuk membentangkan tempat duduknya di atas lantai; tetapi lentera belum dinyalakan

dan aku tak dapat memintanya masuk ke rumahku.

Aku hidup dalam harapan bertemu dengannya;

namun pertemuan belum terjadi.

Kaya Rasa Kaya Makna | Gede Prama

“Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam…”

Kemiskinan badan yang berjumpa dengan kemiskinan pikiran, demikian seorang murid mendengar bisikan gurunya di akhir meditasi. Rumah sakit yang seyogyanya menjadi tempat penyembuhan, tidak saja mahal malah mengirim pasiennya ke penjara. Rumah tangga yang dulunya menjadi tempat teduh pertumbuhan manusia, sekarang menjadi ladang perkelahian yang kering kerontang. Sekolah yang dulunya membahagiakan, sekarang ketika ujian dijaga polisi. Bahkan terjadi penangkapan-penangkapan menakutkan. Contoh seperti ini masih bisa ditambah dengan yang lain. Dari sini timbul pertanyaan bagi generasi baru, ke mana peradaban akan berteduh?

Sekolah yang indah

Di banyak tempat, mulai ditemukan kasus-kasus home schooling. Anak-anak takut pergi ke sekolah karena berbagai alasan. Dari dipukuli teman, ngeri guru galak, pekerjaan rumah yang menumpuk, ujian (ulangan) yang tidak ada habisnya.

Seorang sahabat menteri kabinet yang anaknya terkena home schooling, memutar kepala habis-habisan bagaimana agar wajah sekolah menjadi indah di mata anaknya. Ini memberi inspirasi, mungkin ini saatnya merenungkan sisi-sisi sekolah yang indah. Dan diantara sekian pilihan yang tersedia, latihan memberi adalah salah satu alternatif.

Di sebuah pelatihan supir untuk perusahaan taksi terkemuka pernah dilakukan latihan memberi yang menarik. Di hari pertama peserta diminta membawa nasi bungkus karena tidak diberikan makan siang. Maka berlomba peserta membawa makanan yang seenak-enaknya. Ternyata di waktu makan siang supir diminta meletakkan nasi bungkusnya di kelas sebelah untuk dimakan peserta kelas sebelah. Sedangkan yang bersangkutan memakan makanan yang dibawa sahabat kelas sebelah.

Di hari kedua, lagi-lagi diumumkan untuk membawa nasi bungkus. Setelah tahu kalau nasi yang dibawa untuk orang lain, banyak peserta yang hanya membawa nasi seadanya. Tidak sedikit hanya memasukkan nasi putih tanpa berisi satu lauk pun. Dan ternyata di hari kedua aturannya berubah, peserta harus memakan nasi yang dibawa dari rumah. Dan tahu sendiri akibatnya.

Apa yang mau diilustrasikan di sini, menyangkut perut sendiri betapa borosnya manusia kekinian memberi, bahkan banyak yang sampai stroke hanya karena memberi berlebihan pada perut. Namun berkaitan dengan perut orang lain betapa sedikit yang diberikan. Dan tiba-tiba para supir taksi tersentak, betapa egoisnya hidup, dan keegoisan inilah yang membuat hidup jadi penuh penderitaan.

Para guru yang kaya di dalam, tidak pernah bosan membimbing muridnya: “Memberi, memberi, memberilah terus. Dan lihat bagaimana hidupmu jadi sejuk dan lembut setelah rajin memberi”.

Dan ini bisa dilakukan melalui hal-hal yang kerap disebut “sepele”: menyapu lantai, membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah, menemani anak-anak main bola, merapikan piring ketika pembantu tidak ada, membantu pekerjaan teman di kantor yang bebannya lagi tinggi, memberi jalan pada orang-orang yang sedang terburu-buru.

Di sekolah para guru boleh meniru pola pelatihan supir taksi tadi, bisa juga mengajak anak-anak didik pergi ke panti asuhan, rumah orang-orang yang tubuhnya tidak lengkap, menjenguk pasien-pasien tua di rumah jompo, bermain bola bersama anak kampung. Intinya satu, menyadarkan mereka bahwa memberikan itu membahagiakan.

Dalam bahasa orang-orang yang rajin memberi, ketika memberi sesungguhnya manusia tidak saja sedang mengurangi beban orang lain, melainkan juga sedang membangunkan sifat-sifat bajik yang ada di dalam diri. Dan tatkala sifat-sifat bajik muncul, kebahagiaan muncul secara alamiah.

Tiga tangga pemberian

Ada yang membagi pemberian ke dalam tiga tangga keutamaan. Pertama, para mahluk sama dengan kita: “mau bahagia, tidak mau menderita”. 0leh karena itu, jangan pernah menyakiti. Kedua, para mahluk lebih penting dari kita. Nasi, lauk, air, udara, pekerjaan dan semua yang memungkinkan hidup berputar, dihasilkan pihak lain. Binatang bahkan terbunuh agar manusia bisa makan daging. Untuk itu, banyaklah menyayangi. Dari menanam pohon, membeli burung kemudian melepaskannya, mengurangi memakan daging, sampai memberikan bea siswa anak-anak miskin.

Ketiga, karena para mahluk lebih penting, belajarlah memberikan mereka kebahagiaan, mengambil sebagian penderitaannya. Perhatikan doa Santo Fransiscus dari Asisi. Cintaku, izinkan saya menjadi budak perdamaian. Di mana ada kemarahan, biar saya hadir dengan kasih. Di mana ada kebencian, biar batin ini muncul dengan memaafkan. Mistikus Sufi Kabir menulis: I glimpsed it for fifteen seconds and it made me a servant of life. Nur itu terlihat hanya beberapa detik, namun ia merubah seorang penyembah menjadi seorang pelayan.

HH Dalai Lama kerap menyentuh publik ketika menyampaikan pesan lembut ini: “Jika Anda mau bahagia, sayangi orang lain. Bila Anda mau orang lain bahagia, sayangi orang lain”.

Ini serupa dengan lirik lagu anak-anak tentang menanam pohon yang dikutip di awal, cangkul, cangkul, cangkul yang dalam. Karena hanya dengan mencangkul yang dalam, akar-akar pohon bisa menghidupi batang, daun, bunga dan buah. Kehidupan manusia juga sama. Hanya pemberian yang memungkinkan seseorang “mencangkul hidupnya” secara mendalam. Dan sebagai hasilnya, ada sekuntum bunga indah kehidupan yang mekar: “kaya rasa, kaya makna”. Di tahap ini, ada yang berbisik: Death can be beautiful too!. Bahkan kematian pun berwajah indah. Pertama, bagi yang terbiasa memberi (melepaskan), tidak lagi tersisa kemelekatan yang membuat kematian berwajah menakutkan. Kematian menakutkan karena belum terbiasa melepaskan. Kedua, melalui kematian manusia sedang melaksanakan kesempurnaan pemberian. Jangankan uang, bahkan tubuh pun harus diikhlaskan.

Unsur tanah dari tubuh menyatu dengan tanah, kemudian ikut menghidupi semua mahluk di bumi karena menghasilkan padi, sayur, buah. Unsur air bergabung dengan air agar mahluk tidak kehausan. Unsur api menyatu dengan api agar mahluk bisa memasak. Unsur udara bersatu dengan udara sehingga mahluk bisa melanjutkan kehidupan. Unsur jiwa (ada yang menyebutnya kesadaran) menyatu dengan semua jiwa (kesadaran) agar mahluk ikut ketularan teduh. Inilah kematian yang menawan. Melalui kematian manusia bukannya kehilangan, malah memberikan.

Buahnya Parama Shanti (Gede Prama)

Ada sebuah keberuntungan yang dialami Tibet yang tidak dialami Bali. Guru-guru Tibet bila didengarkan ajarannya secara langsung, tentu saja indah menawan ajarannya. Terutama bagi murid yang terlahir dengan aroma Tantra. Tapi begitu ajaran lisan ini dirubah menjadi pesan-pesan tulisan oleh sejumlah sahabat editor dari Barat, ajaran-ajaran Tantra dari Tibet menjadi jauh lebih indah lagi.

Hanya sebagai contoh, dua buku Yongey Mingyur Rinpoche (Joy of living dan Joyful wisdom) adalah kumpulan ceramah beliau di berbagai belahan dunia. Namun begitu ditulis oleh Eric Swanson, ia menjadi serangkaian karya yang tidak saja beraroma Tantra, namun juga dibahasakan dengan bahasa-bahasa pengetahuan yang universal. Kendati Mingyur Rinpoche adalah salah satu generasi baru guru Tibet, ia tidak saja fasih mengutip  maha  guru Tibet seperti Lama Padmasambhawa dan Gampopa, tetapi juga akrab dengan karya pakar neurosains seperti Fransisco Varela serta fisikawan Fritjof Capra. Andaikan orang-orang seperti Eric Swanson mau datang ke Bali, mendengarkan ajaran tetua Bali, bisa jadi lahir karya spiritual yang tidak kalah indahnya.

Dalam kerangka berfikir yang biasa digunakan para sahabat dari Barat, ajaran tetua Bali bisa disederhanakan seperti ini. Titik berangkatnya adalah rwa bhineda, jalan setapak yang dilalui bernama bhakti yoga, buah pencahariannya bernama Parama Shanti.

Awalnya

Agak sulit membayangkan ada perjalanan spiritual yang mendalam bila pikiran masih dicengkram dan diguncangkan dualitas. Tuhan dimusuhkan dengan setan, Buddha berkelahi dengan mara, yang suci menjadi lawan dari yang kotor. Disebut sulit, karena semakin kencang dualitas mengguncang, semakin jauh seseorang dari rumah spiritualnya. Meminjam seorang sahabat spiritual: “mind tormented by partiality will never experience ultimate peace”. Batin mana pun yang diguncang oleh dualitas, akan teramat sulit menemukan kedamaian maha utama.

Bagi yang sudah menggali dalam ke dalam tahu, dualitas diperlukan hanya di awal perjalanan. Ia seperti kendaraan. Tatkala melewati jalan tol, memerlukan mobil. Saat menyeberangi danau diperlukan perahu. Ketika mendaki tebing memerlukan tali. Akan tetapi sesampai di puncak gunung, seluruh alat dan kendaraan mesti ditinggalkan di belakang. Hanya orang-orang kurang waras saja yang menggendong mobil dan perahu ke puncak gunung.

Dalam perspektif ini, sesungguhnya tetua Bali cerdas sekali (secara spiritual) ketika menemukan rwa bhineda sebagai awal perjalanan. Dalam bahasa orang tua ke puteranya: “rwa bhinedane tampi!”. Dualitas (baik-buruk, benar-salah, suci-kotor, dll) jangan lupa dipeluk, diterima, disapa dengan senyuman.

Itu sebabnya, dalam meditasi dianjurkan untuk menyapa serta tersenyum pada apa saja yang ditemukan dalam keseharian. Bahagia senyum, sedih juga senyum. Kemudian mengenali bentuk-bentuk pikiran, perasaan secara mendalam. Lebih mudah menemukan kesembuhan dan kedamaian bila dualitas disapa sebagaimana kita menyapa seseorang di pesta. Ujung-ujungnya, dualitas berhenti menjadi orang asing yang menakutkan, mulai berfungsi sebagai sahabat yang siap menolong.

 

Jalan Setapak

Dengan bekal sahabat dekat (tidak lagi menjadi musuh yang berdebat dan berkelahi) bernama rwa bhineda, maka langkah-langkah bakti dalam keseharian menjadi ringan menawan. Ringan karena bakti tidak disertai beban target bahwa setelah menjalankan bakti pasti jadi Bupati, jika tidak melaksanakan bakti pasti sakit hati. Bakti adalah bakti, ia sudah indah hanya dengan dilaksanakan. Disebut indah, karena bakti yang mengendarai rwa bhineda bisa membuat semua arah indah.

 

Tetua Bali memang mengenal luan-teben (hulu-hilir). Tetapi tanpa hilir, hulu tidak ada. Tanpa orang jahat, orang baik tidak kelihatan. Tanpa orang kasar, orang sabar jadi hambar. Dengan sudut pandang seperti ini, maka bakti jadi selalu indah, indah dan  indah.  Sebagai  hasilnya,   tidak   perlu  marah  berlebihan kepada orang yang mencuri pratima di Pura, tidak perlu benci berlebihan kepada Pemangku genit yang memercikkan tirtha sambil mengintip susu istri orang. Dan pada saat yang sama, tidak perlu memaksa kalau bakti harus hening, harus tertib, harus diam.

Serupa alam, kalau saatnya petir menggelegar, maka ia akan menggelegar. Bila waktunya langit biru memancarkan cahaya matahari sempurna, maka terang benderanglah alam. Makanya, meditasi disebutkan sebagai undangan untuk “istirahat” pada apa saja yang terjadi di saat ini. Pengertian istirahat amatlah sederhana, tidak menggenggam hal-hal positif, tidak menendang hal-hal negatif. Inilah bhakti yoga yang sesungguhnya. Tatkala batin bisa berbakti kepada apa saja yang terjadi di saat ini.

Buahnya

Dengan bekal awal berupa rwa bhinedha, serta memperlakukan apa saja sebagai bakti, maka mudah bagi krama Bali untuk menyentuh (tidak sekadar mengucapkan) Parama Shanti. Kata shanti (damai) yang diucapkan jutaan kali tidak lagi menjadi seperti sebuah lirik lagu blowing in the wind (terbang percuma bersama angin), tetapi bergetar menyentuh relung-relung batin ini.

 

Tatkala digetarkan oleh vibrasi damai kata shanti, awalnya memang dipeluk keheningan (nyepi lan ngewindu), lama-lama ia melahirkan kerinduan untuk menyayangi semua yang belum pernah mengalaminya (urip lan nguripi). Ia semacam bisikan orang tua ke putera kesayangannya: “bawa orang-orang pulang!”.

Namun sebagaimana cahaya matahari yang hanya bisa menyinari mereka yang membuka jendela dan pintunya, cahaya-cahaya Parama Shanti hanya bisa memasuki mereka yang sujud dan bakti kepada guru. Di Tantra disebut Guru Yoga Guru Puja. Ada memang orang yang ragu berlebihan kemudian mengkaji calon guru sebaik-baiknya. Maklum, ini zaman yang penuh dengan kepalsuan. Namun, bagi mereka yang berkah spiritualnya sudah berlimpah, berkali-kali guru sudah memperlihatkan diri melalui mimpi, samadhi, atau malah sudah menampakkan diri secara nyata (skala) dengan mengenakan tubuh manusia yang siap untuk diajak berdialog.

 

Di antara mereka yang disentuh guru, ada yang bertanya polos: apa ciri murid yang sudah sampai di puncak gunung Parama Shanti, atau sudah memakan buah Parama Shanti?. Kesembuhan adalah langkah permulaan. Kedamaian adalah tangga berikutnya. Keheningan yang tidak terjelaskan, itulah rumah sesungguhnya.

Ahli neorosains Fransisco Varela menemukan istilah the biology of compassion. Kasih sayang ternyata menyembuhkan. Ini mirip dengan hasil penelitian yang menyimpulkan, orang yang memiliki binatang peliharaan yang disayangi di rumah, memiliki resiko terkena serangan jantung lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang tidak memilikinya. Dalam bahasa Daniel Goleman dari Harvard, kasih sayang itu mendamaikan. Kedamaian ini kemudian membuat kekebalan tubuh membaik, yang pada akhirnya membukakan pintu kesembuhan. Dokter senior dari Universitas Yale bernama Bernie Siegel memberi judul karyanya Peace, Love and Healing. Dalam karya ini terang sekali terlihat, kedamaian dan cinta itu menyembuhkan.

Dengan modal kesembuhan ini, mudah sekali bagi pintu kedamaian maha utama (Parama Shanti) terbuka. Kedamaian di jalan ini, bukanlah musuhnya kekacauan. Kedamaian adalah kedamaian. Ia bukan musuhnya siapa-siapa. Ia hanya butuh istirahat pada apa saja yang terjadi di saat ini. Indahnya, setelah istirahat bukannya cuek, tidak peduli, tetapi melahirkan kerinduan untuk selalu melaksanakan tugas-tugas pelayanan.

Sumber: Gede Prama

Janganlah Menjadi Gelas dalam Hidup Ini

Seorang guru mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

Kenapa kau selalu murung, nak?

Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini?

Kemana perginya wajah bersyukurmu?? sang Guru bertanya.

Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh? Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.

Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu, kata Sang Guru? Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

Bagaimana rasanya?? tanya Sang Guru.

Asin, dan perutku jadi mual, jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

Sekarang kau ikut aku.Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau?

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

Sekarang, coba kau minum air danau itu,kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, Bagaimana rasanya??

Segar, segar sekali,kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.

Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi??

Tidak sama sekali,kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

Nak, kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.?

Si murid terdiam, mendengarkan.

Tapi Nak, rasa asin dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu jadi sebesar danau….

Dan selalulah bisa mempunyai hati yg selalu bisa mengucap syukur untuk segala hal yg terjadi dalam hidup kita.

dari: kundaliniyogaindonesia.com

Keterikatan

Orang bahagia setelah keinginannya tercapai, orang bahagia karena memiliki apa yang diinginkan, orang bahagia karena materi… Namun seketika kebahagiaan lenyap saat semua yang mereka miliki hilang. Mereka menangis dan sedih.. Kenapa?

Dimanakah letak kebahagiaan itu? aku mencari dan mencari….

Aku ingin bahagia selamanya… tak peduli ada atau tiada, susah atau mudah, hitam atau putih, benar atau salah.. dimanakah aku mendapatkannya?

Dalam pencarianku yang panjang… membuatku lelah dan terjatuh…
dalam kelelahan dan pasrah, aku mendengar bisikan, entah dari mana… yang jelas dia berusaha mengingatkan ku…. “aku disini” bisiknya

Aku bertanya dimana?
dia menjawab “didalam hatimu”

siapa kamu? tanyaku
dia menjawab “aku kebahagiaan”

“Kebahagiaan, bagaimana caraku mendapatkanmu?”

kebahagiaan menjawab “ketika engkau tiada mengikatkan diri pada hal-hal baik, buruk, suka, duka
selalu  berterimakasih atas apa yang kau terima, penuh senyum, cinta, bersyukur dan tetap menjalankan kewajibanmu dengan sukacita saat itulah aku muncul dan bersamamu..
Kini saatnya engkau kembali, sudah lama engkau berusaha keluar dariku untuk mencariku, engkau tiada sadar teman aku ada di hatimu, engkau selalu merasa aku meninggalkanmu, ketahuilah bahwa aku selalu bersamamu, kembalilah ke hatimu”

Aku tersadar… ternyata aku terlalu mengikatkan diri pada hal-hal yang tidak seharusnya.. terimakasih kepada semua…

Semoga pemkiran yan baik meliputi alam semesta raya..

I Wish Love come from heart to universe..

RENUNGAN

Ketika  duduk dalam keheningan dan kesendirian, terbesit dalam benak pertanyaan2 yang sungguh sulit untuk dipecahkan…

Suka-Duka, Hidup-Mati, Baik-Buruk, Benar-Salah?? Bisakah kita terlepas darinya???

Apa itu suka, duka, baik, buruk, benar atau salah??

Adakah definisi yang pas? absolut dan universal?

Kebenaran begitu luas dan tak terbatas, tak bisa kita lukiskan apalagi untuk membatasinya (definisi). Lalu apa yang orang bicarakan/perdebatkan tentang kebenaran??

Pemikiran manusia yang terbatas hendak memikirkan yang tak terbatas, ya.. begitulah faktanya. Kita berusaha untuk memberikan batasan2 mengenai kebenaran dengan cara mencari titik acuan, dan titik acuan itu sudah tentu berbeda satu sama lainnya. Namun kita berusaha untuk memaksakan kehendak bahwa titik acuan kitalah yang benar, kemudian timbul perdebatan dan akhirnya perselidihan..

Apakah demikian yang dinamakan kebenaran?

Sungguh aneh dan lucu, apakah layak kebenaran dijadikan dalih untuk berperang???

JIka kebenaran yang sering diperdebatkan benar2 mendatangkan keharmonisan dan kedamaian apakah demikian keadaannya?? Dimanakah keharmonisan itu?? Dimanakah kedamaian itu??

Lama ku berfikir, bertanya dan bertanya… Kemanakah mencari kebenaran, kedamaian,keharmonisan dan kebahagiaan yang kekal?? Aku bosan dengan dalih kebenaran-kebenaran diluar yang sarat akan kepentingan peribadi dan malah justru sering terlihat arogan serta akrab dengan kekerasan dan perselisihan…

“Cinta kasih adalah kekuatan hidup.. dan hati nurani adalah dasarnya”

Namun kemanakah Konsep CINTA KASIH? Dimanakah konsep HATI NURANI?

Terkadang kita melupakannya… Jika Cinta Kasih memang bersumber dari hati nurani, dimanakah hati nurani itu berada?? Bukankah dia ada dalam diri kita?

Kita selalu mencari kebenaran keluar berjalan keluar jauh dan jauh dari Hati Nurani dengan sejuta harap akan menemukan kebenaran, kedamaian, keharmonisan dan kebahagiaan. Jika nurani ada didalam mengapa mencari keluar???

Be inspired…

Perjalanan Kedalam

Saat Aku duduk bersama kedua saudaraku

Aku berinama dia kesedihan dan kebahagiaan

Mereka berdua adalah adik kembarku….

Aku tenangkan diri setelah lama menyayangi kebahagiaan dan membenci kesedihan

Akhirnya aku berterimakasih kepada adik kesedihan

Sekarang aku baru menyadari bahwa dia selalu mengingatkan ku untuk tidak terikat pada apapun, saat aku mengikatkan diri pada apapun baik secara materi maupun non materi, adik kesedihan selalu datang, mengganggu …..

Tapi setelah aku pahami maksdunya ….

Kedamaian abadi datang dari dalam dan akan menemani selamanya

Tidak khawatir lagi pada saat sedih dan tidak lagi mengharapkan kebahagiaan

Semuanya sama aku menyayangi kedua saudaraku tadi

Kesedihan dan kebahagiaan terimakasih

Telah mengajarkan dan mengantarkan ku kepada jati diriku sendiri…..

Aku menyadari… Aku bukanlah tubuh, bukan seonggok materi yang tidak kekal…

Baik, buruk, suka duka bukanlah berasal dari luar-ku semua berasal dari-ku…

So ham, so ham, so ham…

Om Shanti, Shanti, shanti..

Lokha Samastha Sukino Bhavantu…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.